Minggu, 21 Agustus 2011

Tari=Mudra (Gerak Tangan), Tabuh=Alunan Genta, Kidung=Puja Mantra

Dari Siwanataraja ke Tari, Tabuh dan Kidung.
Mungkin benar juga bila ada yang mengatakan bahwa seni di Bali lahir dari niat melakukan persembahan yang lengkap. Dari sisi pandang tingkatan dalam pelaksanaan agama, umat Hindu pada umumnya disebut sebagai Walaka, Pemangku disebut sebagai Ekajati sedangkan Pendeta disebut sebagai Dwijati (lahir dua kali atau orang yang dipandang telah ’pralina’ sebagai manusia lalu lahir sebagai Pinandita/Pendeta). Karena itu, dalam melakukan persembahan kehadapan Hyang Widhi, beberapa orang Walaka yang secara bersama-sama mempersembahkan wewalen berupa tari, tabuh dan kidung, barulah dipandang mempersembahkan bhakti setara dengan seorang Pendeta yang melakukan pemujaan pada upacara itu. Tari disetarakan dengan mudra atau gerak tangan sang Pendeta, karawitan atau tabuh disamakan dengan alunan genta (lonceng) sang Pendeta sedangkan kidung disenadakan dengan puja mantra sang Pendeta.
Denting genta yang mengiringi lantunan puja mantra dan gerakan tangan sang pandita mampu membawa suasana teduh saat dilaksanakan suatu upacara di Pura. Bila seseorang makin kuat menghayati suasana hati, lantunan puja mantra dengan genta dan tarian mudra tangan sang pandita akan lebih menyentuh rasa bila terdengar sayup suara gendér, gong gede, lelambatan ataupun tabuh selonding. Lantunan kidung dan gegitaan dengan cengkok lagu yang khas melengkapi suasana magis ritual itu.
Oleh manusia Bali, kebersamaan pemujaan dan persembahan seperti itu diyakini mampu memberi kedalaman rasa pada hati yang tulus. Tak jarang, seperti pelaksanaan upacara di beberapa pegunungan Tabanan, rasa berserah pada ketulusan seperti itu menimbulkan letupan emosi yang akhirnya mudah terjadi perilaku trance atau karawuhan. Di bawah alam sadar seseorang yang berserah dengan khusuk akan bertingkah tidak seperti dirinya sendiri dan ucapan-ucapannya pun amat dekat dengan alam niskala.
Memang sulit membantah bahwa seni tari di Bali sangat berkait erat dengan prosesi keagamaan. Bahkan layak dipercaya bahwa usia pakem tari sama tuanya dengan penetapan tatanan agama Hindu. Dewa Ciwa yang dipercaya oleh umat Hindu sebagai Sang Hyang Tunggal digambarkan pula sebagai “Dewa Tari” dengan gelar Ciwa Nataraja dalam sikap gerakan tari yang diartikan sebagai gerakan kekuatan mengisi ruang saat menciptakan alam semesta. (ilustrasi gambar diatas)
Pada awalnya, tari-tarian yang ditekuni oleh para pragina (penari) adalah jenis tarian sakral sebagai bagian tak terpisahkan dengan prosesi upacara dan hanya digelar tatkala diselenggarakan upacara keagamaan di Pura. Selanjutnya tumbuh pula jenis tarian yang merupakan pelengkap suatu prosesi keagamaan dan bahkan lebih jauh berkembang menjadi media komunikasi masyarakat sekaligus sebagai sarana hiburan.
Dari jenis dan fungsinya, seni tari dalam arti luas berikut seni karawitan (gamelan) yang mengiringinya dipilah menjadi tiga kelompok, yaitu, Tari Wali (religius), Tari Bebali (seremonial) dan Tari Balih-balihan (hiburan).
a. Tari Wali (religius)
Tari wali merupakan jenis tari berikut karawitan yang dipentaskan sehubungan dengan dilaksanakan suatu upacara keagamaan di suatu Pura. Tari wali/sakral atau disebut pula wewalen ini umumnya dipentaskan di halaman tengah suatu Pura (jeroan/purian) dan tari ini tidak akan dipentaskan pada acara-acara lainnya.
Perangkat tari seperti busana, topeng atau juga barong sangat dikeramatkan oleh warga panyungsung-nya serta disimpan di suatu Pura sehingga disyaratkan adanya suatu upacara khusus saat mengambil dari tempat penyimpanan, saat menarikan dan saat menyimpan kembali.
b. Seni Bebali (seremonial)
Tari bebali merupakan jenis tari Bali yang juga digelar pada suatu upacara keagamaan. Umumnya tari bebali dipentaskan dengan suatu lakon yang berhubungan dengan pelaksanaan upacara tersebut. Tari Topeng Pajegan, Topeng Panca, Drama Tari Gambuh dan Wayang Gedog (Lemah) misalnya, adalah jenis tari bebali yang paling sering dipentaskan sebagai pengiring upacara. Tari bebali biasanya dipentaskan di jaba tengah yang merupakan ruang di antara halaman luar (jaba sisi) dengan halaman utama (jeroan) suatu Pura.
c. Tari Balih-balihan (hiburan)
Seni balih-balihan merupakan perkembangan dari seni wali dan bebali yang ditujukan sebagai sarana hiburan dengan menggunakan lakon serta kreasi tari dan tabuh yang lebih bebas. Seringkali jenis balih-balihan ini menggunakan lakon-lakon yang populer di masyarakat saat itu untuk membuka kesempatan masuknya emosi penonton ke dalam pergelaran, sehingga penonton merupakan bagian yang sama pentingnya dengan penari dan penabuh pada pergelaran tersebut. Topeng (bondres), drama gong, arja dan sendratari adalah sebagian kecil dari sekian banyak jenis seni balih-balihan.
Pada mulanya balih-balihan dipentaskan malam hari pada suatu upacara di halaman luar suatu Pura (jaba sisi) untuk maksud memberikan hiburan dan kegembiraan pada masyarakat. Pada perkembangannya kini balih-balihan dipentaskan tanpa mesti terkait dengan upacara agama, semata-mata sarana hiburan dan bahkan terkait dengan pariwisata. (WS)
Sumber : 
Budaya Tari :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.220682614618058.64460.100000289639854&type=1
Potret Bali : http://www.facebook.com/groups/fotoogohogoh/doc/189036914481259/
Nuansa Hindu :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.225406927478960.66414.100000289639854&type=1
Alat Musik Tradisional :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.225406927478960.66414.100000289639854&type=1
Warna Indonesia :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.225406927478960.66414.100000289639854&type=1


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar